PROPORSI
CACAT TINGKAT II PENDERITA
KUSTA
DI INDONESIA
Penyakit kusta masih
merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Hal tersebut karena dampak
yang ditimbulkan sangat kompleks. Masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi
medis, akan tetapi meluas sampai pada masalah sosial, ekonomi budaya dan
ketahanan keamanan.
Penyakit kusta adalah
penyakit kronis yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium Leprae yang pertama
kali menyerang susunan saraf tepi, selanjutnya dapat menyerang kulit, mukosa
(mulut), saluran pernapasan bagian atas, sistem retikulo endothelial, mata,
otot, tulang dan testid. Bila penderita kusta tidak minum obat secara teratur,
maka kuman kusta dalam tubuh penderita akan tumbuh dan berkembang lebih banyak
sehingga merusak saraf penderita yang pada akhirnya dapat menimbulkan kecacatan
(Widoyono, 2005 Masriadi 2017). Sampai saat ini epidemiologi penyakit kusta
belum sepenuhnya diketahui secara pasti. Penyakit kusta tersebar di seluruh
dunia terutama di daerah tropis dan subtropis, dapat menyerang semua umur.
Frekuensi tertinggi pada kelompok umur antara 30-50 tahun dan lebih sering
mengenai laki-laki daripada wanita.
Prevalensi penyakit
kusta di Indonesia menempati urutan ketiga setelah India dan Brazil. Penderita
kusta di Indonesia terdapat hampir pada seluruh provinsi dengan pola penyebaran
yang tidak merata. Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan (Ditjen P2P) Kemenkes RI tahun 2020 menyatakan angka cacat tingkat
II penderita kusta baru per 1.000.000 penduduk tahun 2011-2019, yang dapat
dilihat pada grafik histogram berikut:
|
Tabel 1.1 |
Angka Cacat Tingkat 2
Penderita Kusta Baru Per 1.000.000 Penduduk Tahun 2011-2019 |
||
|
NO |
TAHUN |
ANGKA CACAT |
|
|
1. |
2011 |
8,40 |
|
|
2. |
2012 |
8,71 |
|
|
3. |
2013 |
6,82 |
|
|
4. |
2014 |
6,33 |
|
|
5. |
2015 |
6,60 |
|
|
6. |
2016 |
5,27 |
|
|
7. |
2017 |
4,26 |
|
|
8. |
2018 |
4,22 |
|
|
9. |
2019 |
4,18 |
|
Sumber: Ditjen P2P Kemenkes RI, 2020
GRAFIK
HISTOGRAM
Keberhasilan dalam
mendeteksi kasus baru dapat diukur dari tinggi rendahnya proporsi cacat tingkat
II. Proporsi tertinggi cacat tingkat II pada tahun 2011 sebesar 8,40, sedangkan
proporsi terendah cacat tingkat II pada tahun 2019 sebesar 4,18.
Kusta ditimbulkan oleh
bakteri Mycobacterium leprae, yang menyerang kulit dan saraf tepi (primer).
Upaya pencegahan penyakit kusta dapat dibedakan menjadi tiga jika ditinjau dari
pandangan epidemiologi pencegahan penyakit (Masriadi, 2012 dalam Masriadi
2017), yaitu:
1.
Pencegahan
Primer
Pencegahan primer adalah pencegahan
tingkat pertama, tujuannya adalah untuk mengurangi insidensi penyakit dengan
cara mengendalikan penyebab penyakit dan faktor resikonya.
2.
Pencegahan
Sekunder
Menurut Hutabarat (2008),
pencegahan sekunder dilakukan dengan pengobatan pada penderita kusta untuk
memutuskan mata rantai penularan, menyembuhkan penyakit penderita, mencegah
terjadinya cacat atau mencegah bertambahnya cacat yang sudah ada sebelum
pengobatan. Pemberian Multi drug therapy
pada penderita kusta terutama pada tipe Multibaciler
karena tipe tersebut merupakan sumber kuman menularkan kepada orang lain.
3.
Pencegahan
Tersier
Pencegahan tersier dimaksudkan untuk
mengurangi kemajuan atau komplikasi penyakit yang sudah terjadi dan merupakan
sebuah aspek terapatik dan kedokteran rehabilitasi yang paling penting.
Pencegahan tersier merupakan usaha pencegahan terakhir terdiri dari:
a. Rehabilitasi
Medik
Menghadapi kecacatan pada pasien
kusta, perlu dibuat program rehabilitasi medik yang terencana dan
terorganisasi. Diperlukan pencegahan cacat sejak dini dengan disertai
pengelolaan yang baik dan benar. Untuk itulah diperlukan pengetahuan
rehabilitasi medik secara terpadu mulai dari pengobatan, psikoterapi,
fisioterapi, perawatan luka, bedah rekontruksi dan bedah septik, pemberian alas
kaki, protese atau alat bantu lainnya serta terapi okupasi.
b. Rehabilitasi
Non-Medik
Meskipun penyakit kusta tidak
banyak menyebabkan kematian, namun penyakit ini termasuk penyakit yang paling
ditakuti seluruh dunia. Penyakit kusta dikenal 2 jenis cacat yaitu cacat
psikososial dan cacat fisik. Masalah psikososial yang timbul pada penderita
kusta lebih menonjol dibandingkan dengan masalah medisnya sendiri. Hal tersebut
disebabkan oleh karena adanga stigma leprofobi yang dipengaruhi oleh informasi
keliru tentang penyakit kusta.
c. Rehabilitasi
Mental
Penyuluhan kesehatan berupa
bimbingan mental, harus diupayakan sedini mungkin pada setiap penderita,
keluarganya dan masyarakat sekitarnya untuk memberikan dorongan dan semangat
agar mereka dapat menerima kenyataan ini. Selain itu juga agar penderita dapat
segera mulai menjalani pengobatan dengan teratur dan benar sampai dinyatakan
sembuh secara medis.
d. Rehabilitasi
Karya
Upaya rehabilitasi karya ini dilakukan agar penderita yang sudah terlanjur cacat dapat kembali melakukan pekerjaan yang sama atau dapat melatih diri terhadap pekeraan baru sesuai dengan tingkat cacat, pendidikan dan pengalam bekerja sebelumnya. Penempatan di tempat kerja yang aman dan tempat akan mengirangi risiko berlanjutnya cacat pada penderita kusta.
e. Rehabilitasi
Sosial
Rehabilitasi sosial bertujuan
memulihkan fungsi sosial ekonomi penderita. Hal tersebut sangat sulit dicapai
oleh penderita sendiri tanpa partipasi aktif dari masyarakat di sekitarnya.
Rehabilitasi sosial bukanlah bantua sosial yang harus diberikan secara terus
menerus, melainkan upaya yang bertujuan untuk menunjang kemandirian penderita.
Kesimpulan
Kusta merupakan penyakit menular yang
umumnya terdapat dinegara berkembang dan sebagian besar penderitanya adalah
dari golongan ekonomi lemah. Prevalensi penyakit kusta di Indonesia menempati
urutan ketiga terbanyak setelah India dan Brazil. Maka dari itu penanganan
penyaki kusta di Indonesia belum maksimal dan merata melihat masih terdapat
penyebaran penyakit ini.
Referensi
Masriadi. (2017). EPIDEMIOLOGI
PENYAKIT MENULAR. Depok: PT RajaGrafindo Pustaka.
Pusat Data dan Analisa Tempo.
(2019). Kiat Pemerintah Mengurangi Polio dan Kusta. TEMPO Publishing.
Kelompok 14 (4B/S1 Keperawatan)
Anggota : Meske Aulia A, Siti Yoanny Putri N dan Unang
Komentar
Posting Komentar